Ali Yusa: Mitigasi Rob Surabaya Perlu Paradigma Hidup Bersama Air
selalu.id – Banjir rob yang berulang di kawasan pesisir Surabaya menunjukkan bahwa pendekatan mitigasi yang selama ini diterapkan belum sepenuhnya mampu menjawab dinamika alam pesisir. Kota yang hidup dari muara dan laut terus dihadapkan pada kenyataan bahwa air laut memiliki ritme sendiri yang tidak selalu sejalan dengan siklus perencanaan pembangunan.
Hal tersebut disampaikan Ali Yusa, Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia Jawa Timur, Dewan Pakar IKA ITS Jawa Timur, sekaligus Dosen Teknik Konstruksi Perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik.
"Di negeri yang gemar membuat rencana lima tahunan, pesisir adalah pengingat paling jujur bahwa alam bekerja dengan kalendernya sendiri," ucap Ali Yusa kepada selalu.id, Jumat (2/1/2026).
Ali Yusa menjelaskan, perubahan kondisi pesisir Surabaya secara matematis cukup signifikan. Kenaikan muka air laut rata-rata mencapai sekitar 5 milimeter per tahun, sementara penurunan muka tanah berada di kisaran 4 sentimeter per tahun. Dalam satu siklus perencanaan pembangunan, akumulasi perubahan elevasi relatif ini bisa melampaui 20 sentimeter.
"Angka ini kecil di layar presentasi, tetapi cukup untuk membuat lantai rumah warga basah setinggi mata kaki," jelasnya.
Ia menilai, persoalan utama terletak pada paradigma mitigasi yang masih keliru. Mitigasi sering dipahami sebagai upaya menutup seluruh kemungkinan risiko, padahal pada praktiknya mitigasi adalah proses menyiapkan diri menghadapi ketidakpastian.
"Mitigasi terlalu sering dipahami sebagai upaya menutup semua kemungkinan buruk, padahal sesungguhnya ia adalah seni menyiapkan diri menghadapi kemungkinan yang tak sepenuhnya bisa ditebak," tegasnya.
Berdasarkan data yang ia paparkan, sekitar 600 ribu penduduk tinggal di wilayah pesisir dan hilir sungai Surabaya. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 180 ribu rumah tangga berada pada risiko tinggi terdampak banjir rob. Kerugian ekonomi rata-rata mencapai Rp2,5 juta per rumah tangga per tahun, sehingga secara akumulatif potensi kerugian sosial dapat menembus Rp450 miliar setiap tahun.
"Angka ini cukup untuk membangun banyak monumen mitigasi, tetapi entah mengapa tidak cukup untuk mengubah cara berpikir," ujarnya.
Ali Yusa menilai kondisi tersebut mencerminkan paradoks pembangunan. Risiko bencana kerap dipersepsikan sebagai persoalan individu warga, sementara mitigasi diposisikan semata sebagai urusan proyek fisik.
Ia mengajak Surabaya belajar dari pengalaman Belanda dalam mengelola wilayah yang sebagian besar berada di bawah permukaan laut.
"Rijkswaterstaat, lembaga pengelola air mereka, membangun pendekatan yang sederhana tetapi radikal: hidup bersama air, bukan melawannya," katanya.
Pendekatan tersebut, lanjut Ali Yusa, tidak menjanjikan keamanan mutlak. Konsep yang dikembangkan adalah acceptable risk, yakni risiko yang disadari, dihitung, dan dikelola bersama secara konsisten lintas generasi. Setiap 1 euro investasi pada pencegahan dan adaptasi air di Belanda diperkirakan mampu menghemat 4 hingga 7 euro biaya pemulihan bencana.
Menurutnya, Surabaya memiliki modal yang tidak kalah penting. Dari sekitar 3.000 hektare kawasan pesisir dan sempadan sungai, masih tersedia ruang untuk pendekatan mitigasi berbasis alam.
"Rehabilitasi mangrove berbasis komunitas hanya membutuhkan biaya sekitar Rp60 sampai Rp80 juta per hektare, jauh lebih murah dibanding proyek formal yang bisa mencapai Rp150 juta per hektare," ungkapnya.
Ali Yusa juga memaparkan konsep multi-layer safety yang diterapkan di Belanda dan dinilai relevan untuk Surabaya. Konsep tersebut mencakup perlindungan fisik, penataan ruang yang adaptif, serta penguatan kesiapsiagaan sosial.
"Mitigasi tidak berhenti pada tanggul dan pompa, tetapi juga pada keputusan berani untuk menjaga ruang terbuka pesisir, mengendalikan alih fungsi lahan, dan memperkuat kapasitas warga," katanya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan air sangat bergantung pada kepercayaan sosial.
"Sistem pengelolaan air yang tangguh hanya mungkin jika warga merasa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek relokasi atau sosialisasi," ujarnya.
Menurut Ali Yusa, air akan selalu datang ke wilayah pesisir. Yang menjadi pilihan adalah bagaimana kota dan warganya merespons kehadiran air tersebut secara adil dan rasional.
"Pesisir yang tangguh bukan pesisir yang kering selamanya, melainkan pesisir yang tahu ke mana air harus pergi, siapa yang harus dilindungi lebih dulu, dan berapa harga yang pantas dibayar untuk sebuah rasa aman," tandasnya.

Penulis di iniloh.com. Misi kami membongkar informasi rumit jadi bacaan yang ringan dan berguna untukmu, dari yang kompleks jadi mudah, dari yang membingungkan jadi jelas.










