Kenya, Jangan Biarkan Orang Lain Mencuri Kebahagiaan Kita!
Iniloh.com Jakarta- Kenya, perempuan asal Semarang dengan senyum menawan, tumbuh di tengah kehangatan keluarga dan pertemanan yang akrab.
“Keluarga saya seperti pohon cemara: akarnya kuat, dan setiap cabang saling mendukung,” ujarnya, menggambarkan ikatan dengan orang tua serta saudara.
Di kota lumpia ini pula ia membangun relasi pertemanan yang luas. “Teman-teman itu seperti saudara kedua. Mereka yang membuat Semarang terasa begitu spesial,” tambahnya.
Dari sanalah Kenya belajar arti kebersamaan, nilai yang terus dibawanya hingga merambah dunia modeling.
Sebagai freelance model dan talent, Kenya menikmati fleksibilitas yang tak dimiliki pekerja kantoran.
“Saya suka tidak terikat jadwal ketat. Bisa mengatur waktu sesuai prioritas, bahkan sesekali menyelipkan libur dadakan,” ungkapnya.
Profesi ini juga memberinya kesempatan bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang.
“Setiap project seperti membuka pintu baru. Saya belajar dari fotografer, desainer, bahkan sesama model yang punya kisah unik,” paparnya.
Namun, jalan freelancing tak selalu mulus. Kenya mengakui pernah berhadapan dengan klien yang “sedikit ribet”.
“Misalnya, permintaan revisi mendadak atau ekspektasi tidak realistis. Tapi, sejauh ini masih jarang terjadi,” ujarnya sambil tersenyap.
Baginya, kunci menghadapinya adalah komunikasi jelas dan tetap profesional.
“Saya selalu pastikan kontrak detail sejak awal. Jadi, kedua pihak enggak ada yang dirugikan,” tegasnya.
Di balik kesibukannya, Kenya punya tujuan mulia: mengalirkan rezeki halal dari hobi dan passion untuk membahagiakan orang sekitar.
“Saya percaya, rezeki bukan sekadar uang. Tapi juga kebahagiaan yang bisa dibagi,” ujarnya.
Ia kerap menyisihkan sebagian penghasilan untuk keluarga atau teman yang membutuhkan.
“Melihat senyum mereka, saya makin termotivasi bekerja lebih keras,” tambahnya.
Tak hanya itu, ia ingin kontribusinya sebagai model memberi dampak positif.
“Saya berusaha ambil job yang sesuai nilai diri. Misal, promosi produk halal atau brand yang peduli lingkungan,” jelasnya.
Bagi Kenya, menjadi freelance bukan sekadar mencari popularitas, tapi juga menjaga integritas.
Dalam perjalanan karir, Kenya kerap diingatkan oleh pesan bijak: “Yang membenci akan selalu membenci, dan yang suka akan tetap suka.”
Ia memilih tak terjebak pada penilaian negatif.
“Kita hidup untuk diri sendiri, bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain,” tegasnya.
Saat menghadapi komentar tak menyenangkan, ia mengibaratkannya seperti angin lalu.
“Satu mulut tak bisa ceritakan semua kebaikan kita. Jadi, buat apa mendengarkan omongan buruk?” ujarnya.
Ia punya trik sederhana:
“Dua tangan ini bisa menutup telinga saat perlu.” Baginya, fokus pada hal positif adalah cara menjaga mental.
“Saya lebih memilih energi untuk memperbaiki diri dan mendengar masukan konstruktif,” tambahnya.
Kota kelahirannya tetap menjadi sumber kekuatan. Kenya kerap pulang ke Semarang untuk mengisi ulang energi.
“Di sini, saya ingat kembali siapa diri saya sebelum terjun ke dunia modeling,” ujarnya.
Kedekatan dengan keluarga dan teman-teman lama menjadi pengingat akan identitas aslinya, bukan sekadar model, tapi juga anak, saudara, dan sahabat yang setia.
Kini, di tengah dinamika karir freelance, Kenya terus menari di atas panggung hidupnya sendiri. Ia tak ingin terburu-buru.
“Saya menikmati proses. Yang penting, setiap langkah memberi kebahagiaan dan manfaat,” ucapnya.
Untuk masyarakat, ia berpesan: “Jangan biarkan orang lain mencuri kebahagiaanmu. Jadilah seperti air mengalir, tapi bisa menerjang batu penghalang!”
Source image: kenya

Penulis di iniloh.com. Misi kami membongkar informasi rumit jadi bacaan yang ringan dan berguna untukmu, dari yang kompleks jadi mudah, dari yang membingungkan jadi jelas.










